Sabtu, 26 Januari 2013


اسم الاشارة

اسم الاشارة adalah isim yang menunjukkan sebuah isyarat untuk menunjukkan sebua tempat atau menunjuk kepada yang dimaksudkan,  ada pun macam-macam اسم الاشارة  adalah sebagai berikut :
1.     هذا
Adapun هذا  hanya di gunakan kepada مفرد مذكر atau yang menunjukkan kepada laki-laki yang menunjukkan satu contoh:
هذا كتاب  artinya ini kitab, kitab disini menunjukkan laki-laki karena tidak memiliki ة atau disebut taa marbuth.
2.     هذان
Adapun untuk menunjukkan مثنى مذكر adalah هذان atau yang menunjukkan kepada dua laki-laki  contoh: هذان كتابان artinya ini dua kitab, هذان رجلان artinya ini dua laki-laki.
3.     هؤلاء
هؤلاء
menunjukkan kepada banyak kata benda yang berbentuk laki-laki atau yang tidak memiliki ة kata ini disebut جمع مذكر atau disebut taa marbuth, contoh: هؤلاء ابواب artinya ini adalah pintu, tetapi arti daari ini menunjukkan banyak atau jamak.
kata ini pun dapat pulah kita gunakan untuk جمع مؤنث kata yang berbentuk perempuan menunjukkan banyak contoh: هؤلاء سبرات kata سبرات adalah jamak dari kata سبورة yang berbentuk مؤنث.
4.     هذه
adapun untuk menunjukkan perempuan atau banda yang berbentuk مؤنث  yaitu هذه kata ini cuma digunakan kepada مؤنث مفرد atau perempuan yang berbentuk satu, contoh: هذه سبورة artinya ini papan tulis, kata سبورة disini menunjukkan perempuan karena memiliki ة  yang disebut taa barbuth.
5.     هاتان
kata ini digunakan kepada مثنى مؤنث atau kata perempuan yang berbentuk dua, contoh: هتان سبرتان artinya ini dua papan tulis.
6.     ذلك
kata ini juga digunakan kepda مفرد مذكر namun kata ذلك berbeda arti, artinya ITU, sedangkan  هؤلاء, هذان, هذه, هاتانdan  هذا artinya INI, atau menunjukkan kepada hal-hal yang dekat  yang bisa disentuh, sedangkan ذلك, menunjukkan benda yang jauh yang tidak bisa disentuh tapi dapat kita perlihatkan dengan kata ذلك contoh:ذلك قلم artinya itu pulpen
7.     ذانك
ada pun kata ini digunakan unuk مذكر  مثنى tapi artinya sama dengan ذلك yakni ITU contoh: ذانك قلمان artinya itu dua pulpen.
8.     ألئك
kata ini digunakan untuk bentuk kata جمع مذكر dan جمع مؤنث kata ini juga mempunyai arti  sama dengan ذانك dan ذلك, adapun contohnya  untuk جمع مذكر: ألئك اقلام dan contoh untuk جمع مؤنث: ألئك كراسات
9.     تلك
kata تلك digunakan unutuk مؤنث مفرد contoh: تلك سبورة
10.                        تانك
تانك
digunakan untuk kata مثنى مؤنث contoh: تانك سبورتان

Jumat, 30 November 2012

munasabah al-qur'an




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
          Lahirnya pengetahuan tentang teori korelasi (munasabah)  ini tampaknya berawal dari kenyataan bahwa sistematika Al-Quran sebagaimana terdapat dalam mushab usmani sekarang tidak berdasarkan atas fakta kronologis turunnya. Sehungan dengan ini, ulama salaf berbeda pendapat tentang urutan surat di dalam Al-Quran. Segolongan dari mereka berpendapat bahwa hal itu di dasarkan atas tauqifi dari Nabi SWA. Segolongan lain berpendapat bahwa hal itu di dasarkan pada ijtihad para sahabat setelah bersepakat dan memastikan bahwa susunan ayat adalah tauqifi. Golongan ketiga berpendapat serupa dengan golongan pertama, kecuali surat Al-Anfal dan Bara’ah yang di pandang bersifat ijtihadi.
B.    Rumusan Masalah
        Adapun masalah yang dapat kata ungkapkan dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut :
A.    Apa pengertian Munasabah
B.    Cara Mengetahui Munasabah
C.   Macam-macam Munasabah






BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Munasabah
       Kata munasabah  secara etimologi, menurut As-Suyuti berarti  al-musyakalah (keserupaan) dan al-muqarabah (kedekatan).
        Menurut pengertian terminologi, munasabah dapat di definisikan sebagai berikut :
1.      Menurut Az-Zarkasyi.



 Artinya :
 ‘’Munasabah adalah suatu hal yang dapat di pahami.   Tatkala di hadapkan kepada akal, pasti akal itu akan   menerimanya’’
2.      Menurut Manna’ Al-Qaththan.




Artinya :
‘’Munasabah adalah sisi keterikatan antara beberapa ungkapan di dalam suatu ayat, atau antara ayat pada beberapa ayat, atau antara surat (di dalam Al-Quran).




3.      Menurut Ibn Al-‘Arabi.





  Artinya :
‘’Munasabah adalah keterkaitan ayat-ayat Al-Quran sehingga seolah-olah merupakan suatu ungkapan yang mempunyai suatu kesatuan  makna dan keteraturan redaksi. Munasabah merupakan ilmu yang sangat agung.

4.      Menurut Al-Biqa’i.
‘’Munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan di balik susunan atau urutan bagian-bagian Al-Quran, baik ayat dengan ayat, atau surah dengan surah’’.

          Jadi  dalam konteks ‘ulum Al-Quran, munasabah berarti menjelaskan korelasi makna antar ayat atau antar surat, baik korelasi itu bersifat umum atau khusus; rasonal (‘aqli), persepsi (hassiy), atau imajinatif (khayali); atau korelasi berupa sebap-akibat, ‘illat dan ma’lul, perbandingan dan perlawanan.


B.       Cara Mengetahui Munasabah
              Para ulama menjelaskan bahwa pengetahuan tentang  munasabah bersifat ijtihadi. Artinya, pengetahuan tentangnya di tetapkan berdasarkan ijtihad karena tidak di temukan riwayat, baik dari nabi maupun dari para sahabatnya. Oleh karena itu tidak ada keharusan mencari munasabah pada setiap ayat. Alasannya Al-Quran di turunkan secara beransur-ansur mengikuti berbagai kejadian dan peristiwa yang ada. Oleh karena itu, terkadang seorang mufasir menemukan suatu ayat dengan yang lainnya dan terkadang tiidak. Ketika ia tidak menemukan keterkaitan itu, ia tidak di perkenankan untuk memaksa diri.
                 Untuk meneliti keserasian susunan ayat dan surat (munasabah) dalam Al-Quran di perlukan ketelitian dan pemikiran yang mendalam. As-Suyuti menjelaskan ada beberapa langkah yang perlu di perhatikan untuk menemukan munasabah ini, yaitu:
1.    Harus di perhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi objek pencarian.
2.    Memerhatikan uraian ayat-ayat  yang sesuai dengan tujuan yang di bahas dalam surat.
3.    Menentukan tingkatan uraian-uraian itu, apakah ada hubungannya atau tidak.
4.    Dalam mengambil kesimpulannya, hendaknya memerhatikan ungkapan-ungkapan bahasanya dengar benar dan tidak berlebihan.

C.    Macam-Macam Munasabah
               Dalam Al-Quran sekurang-kurangnya terdapat tujuh macam munasabah yaitu:
1.    Munasabah antarsurat dengan surat sebelumnya.
As-Suyuti menyimpylkan bahwa munasabah antarsatu surat dengan surat sebelumnya berfungsi menerangkan dan menyempurnakan ungkapan pada surat sebelumnya.
2.    Munasabah antarnama surat dan tujuan turunnya
Setiap surat mempunyai tema pembicaraan yang menonjol, dan itu tercermin pada namanya masing-masing, seperti surah Al-Baqarah, Surah Yunus, Surah An-Naml, dan Surah Al-Jin.
3.    Munasabah antarbagian suatu ayat
Munasabah antar bagian surat sering berbentuk pola munasabah al-tadhadat (perlawanan) seperti terlihat dalam surat al-hadid ayat 4


4.    Munasabah antarayat yang letaknya berdampingan.
Munasabah antar ayat yang letaknya berdampingan sering terlihat dengan jelas, tetapi sering juga tidak jelas. Munasabah antar ayat yang terlihat dengan jelas umumnya menggunakan pola ta’kid (penguat), tafsir (penjelas), i’tiradh (bantahan) dan tasydid (penegasan).
5.    Munasabah antar-suatu kelompok ayat dan kelompok ayat sampingnya.
Dalam surah al- baqarah ayat 1 sampai ayat 20, misalnya Allah memulai penjelasannya tentang kebenaran dan fungsi al-quran bagi orang-orang yang bertakwa. Dalam kelompok ayat-ayat berikutnya di bicarakan tiga kelompok manusia dan sifat-sifat mereka yang berbeda-beda, yaitu mukmin, kafir, dan munafik.
6.    Munasabah antarfashilah (pemisah) dan isi ayat.
Macam munasabah ini mengandung tujuan-tujuan tertentu. Di antaranya adalah untuk menguatkan (tamkin) makna yang terkandung dalam suatu ayat.
7.    Munasabah antar awal surat dan akhir surat yang sama.
Tentang munasabah semacam ini, As-Suyuti telah mengarang sebuah buku yang berjudul marasid al-mathali fi tanasub al-maqati’wa al- mathali’.
8.    Munasabah antar penutup suatu surat dengan awal surat berikutnya.
Jika di perhatikan pada setiap pembukaan surat, akan di jumpai munasabah dengan akhir surat sebelumnya, sekalipun tidak mudah mencarinya

D.   Urgensi dan kegunaan mempelajari munasabah.
              Sebagian asbab an-nuzul, munasabah sangat berperang dalam memahami Al-Quran. Muhammad Abdullah darraz berkata: ‘’ sekalipun pembahasan-pembahasan di ungkapkan oleh surat-surat itu banyak, semuanya merupakan satu kesatuan pembicaraan yang awal dan akhiranya saling berkaitan.
               Lebih jauh lagi, kegunaan mempelajari ilmu munasabah dapat di jelaskan sebagai berikut:
1.    Dapat mengembangkan sebagian anggapan orang bahwa tema-tema Al-Quran kehilangan relevansi antara satu bagian yang lainnya.
2.    Mengetahui atau bersambungan/hubungan antara bagian Al-Quran, baik antara kalimat atau antara ayat maupun antara surat, sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab Al- Quran dan memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya.
3.    Dapat di ketahui mutu dan tingkat ke balaghah-an bahasa Al-Quran dan konteks kalimat-kalimatnya yang satu dengan yang lainnya.
4.    Dapat membantu dalam menafsirkak ayayt-ayatAl-Quran setelah di ketahui hubungan suatu kalimat atau ayat dengan kalimat atau ayat yang lain.


























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
         Para ulama menjelaskan bahwa pengetahuan tentang munasabah bersifat ijtihadi. Artinya, pengetahuan tentangnya di tetapkan berdasarkan ijtihad karena tidak di temukan riwayat, baiik dari Nabi maupun para sahabatnya. Oleh karena itu tidak ada keharusan mencari munasabah pada setiap ayat. Alasannya karena Al-Quran di turunkan secara berangsur-angsur mengikuti berbagai kejadian dan peristiwa yang ada.
         Sehubungan dengan ini para ulama berbeda pendapat tentang urutan surah di dalam Al-Quran. Segolongan dari mereka berpemdapat bahwa hal itu di dasarkan pada taukifi dari Nabi SAW. Segolongan lain berpendapat bahwa hal itu di dasarkanatas ijtihad para sahabat setelah bersepakat dan memastikan bahwa susunan ayat adalah tauqif. Golongan lain ketiga berpendapat serupa dengan golongan pertama, kecuali surat Al-Anfal dan Bara’ah yang di pandang bersifat ijtihadi.
B.    Saran
         Dengan selesainya makalah ini, tentunya masih banyak yang perlu di benahi. Maka dari itu maka dari itu kami mengharapkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun dari dosen yang membawakan mata kuliah ini.
         Selanjutnya, kami selaku penyusun makalah hanya mememberikan masukan. Khususnya kepada teman-teman mahasiswa, karena seperti yang kita ketahui bahwa mahasiswa ‘’Agent Social Of Change and Agent Social Of Control’’, maka untuk mengaplikasikan itu maka kita di tuntut untuk mengadakan inovasi dan tidak lupa kita harus membenahi diri dari kekurangan yang ada untuk menuju kesempurnaan.



Daftar pustaka
1.    Anwar Rosihon, Ulum A-Quran, Pustaka Setia, Bandung, 2007.
2.     

ILMU PENDIDIKAN


1. Pengertian pendidikan islam
            Menurut bahasa pengertian pendidikan islam yaitu “tarbiyah”,dengan kata kerja“rabba”. Sedangkan “pendidikan islam”dalam bahasa arabnya adalah “TarbiyahIslamiyah”.Kata kerja rabba {mendidik} sudah digunakan sejak pada zaman nab Muhammad SAW seperti terlihat dalam Alquran dan Hadist Nabi.Menurut istilah kegiatan yang dilakukan Nabi dalam meyampaikan seruan agama dengan berdakwah,meyampaikan ajaran, memberi contoh , melatih keterampilan , dan menciptakan lingkungan social yang mendukung pelaksana ide pembentukan pribadi muslim.Jadi pendidikan islam adlah sekaligus pedidikan iman dan pendidikan amal, maka pedidikan islam adalah pedidikan individu dan pedidikan masyarakat.

2.Manusia dan pendidikan
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Bukti paling kongkrit yaitu manusia memiliki kemampuan intelegesi dan daya nalar sehingga manusia mampu berifikir, berbuat, dan bertindak untuk membuat perubahan dengan maksud pengembangan sebagai manusia yang utuh. Kemampuan seperti itulah yang tidak dimiliki oleh makhluk Tuhan lainnya. Dalam kaitannya dengan perkembangan individu, manusia dapat tumbuh dan berkembang melalui suatu proses alami menuju kedewasaan baik itu bersifat jasmani maupun bersifat rohani. Oleh sebab itu manusia memerlukan Pendidikan  demi mendapatkan perkembangan yang optimal sebagai manusia.
 Pada dasarnya ada dua pokok persoalan tentang hakikat manusia. Pertama, telaah tentang manusia atau hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi ini. Kedua, telaah tentang sifat manusia dan karakteristik yang menjadi ciri khususnya serta hubungannya dengan
fitrah manusia.Ragam pemahaman tentang hakikat manusia, sbb:
3.   Pengertian teori atau aliran pendidikan

Aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa pembaruan pendidikan. Pertama, “teori” dipergunakan oleh para pendidik untuk menunjukkan hipotesis-hipotesis tertentu dalam rangka membuktikan kebenaran-kebenaran melalui eksperimentasi dan observasi serta berfungsi menjelaskan pokok bahasannya. O’Connor mendenifisikan istilah “teori” ini katanya:
Kata “teori” sebagaimana yang dipergunakan dalam konteks pendidikan secara umum adalah sebuah tema yang apik. Teori yang dimaksudkan hanya dianggap absah manakala kita tetapkan hasil-hasil eksperimental yang dibangun dengan baik dalam bidang psikologi atau sosiologi hingga sampai kepada praktek kependidikaN

1)   Aliran Nativisme
Istilah nativisme dari kata natie yang artinya adalah terlahir. Tokoh aliran ini adalah Schopenhauer. Ia adalah filosof Jerman yang hidup pada tahun 1788-1880. Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan mausia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah yang menetukan hasil perkembangannya. Menurut kaum nativisme itu, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Jadi, kalau benar pendapat tersebut, percumalah kita mendidik atau dengan kata lain pendidikan tidak perlu. Dalam ilmu pendidikan, hal ini disebut pedagogis pesimisme. Misalnya, seorang anak yang berasal dari orang tua yang ahli seni musik, akan berkembang menjadi seniman musik yang mungkin melebihi kemampuan orang tuanya, mungkin juga hanya sampai pada setengah kemampuan orang tuanya.


2)      Aliran Empirisme
Tokoh aliran empirisme adalah John Lock, filosof inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. Teorinya dikenal dengan Tabulae Rasae (meja lilin), yang menyebutkan bahwa anak yang lahir kedunia seperti kertas putih yang bersih. Kertas putih akan mempunyai corak dan tulisan yang digores oleh lingkungan.
Aliran empirisme berpendapat berlawanan dengan kaum nativisme karena berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu sama sekali tidak ditentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil. Manusia-manusia dapat dididik menjadi apa saja (kearah yang baik maupun yang buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidiknya. Dalam pendidikan, pendapat kaum empiris ini terkenal dengan nama optimisme pedagogis. Aliran empirisme dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan, menurut kenyataan dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena berbakat, meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Keberhasilan ini disebabkan oleh adanya kemampuan yang berasal dari dalam diri yang berupa kecedasan atau kemauan keras, anak berusaha mendapatkan lingkungan yang dapat mengembangkan bakat atau kmampuan yang telah ada dalam dirinya.
Misalnya: Suatu keluarga yang kaya raya ingin memaksa anaknya menjadi pelukis segala alat dibelikan dan pendidik ahli didatangkan. Akan tetapi gagal, karena bakat melukis pada anak itu tidak ada. Akibatnya dalam diri anak terjadi konflik, pendidikan mengalami kesukaran dan hasinya tidak optimal.
4)   Aliran Konvergensi
Tokoh aliran konvergensi adalah William Stern. Ia seorang tokoh pendidikan jerman yang hidup tahun 1871-1939. Aliran konvergensi merupakan kompromi atau kombinasi dari aliran nativisme dan empirisme. Aliran ini berpendapat bahwa anak lahir didunia ini telah memiliki bakat baik dan buruk, sedangkan perkembangan anak selanjutnya akan dipengaruhi oleh lingkungan. Jadi, faktor pembawaan dan lingkungan sama-sama berperan penting.
Anak yang mempunyai pembawaan baik dan didukung oleh lingkungan pendidikan yang baik akan menjadi semakin baik. Sedangkan bakat yang dibawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa dukungan lingkungan yang sesuai bagi perkembangan bakat itu sendiri. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak secara optimal jika tida didukung oleh bakat baik yang dibawa anak.
Karena itu teori W. Stern disebut teori konvergensi (konvergen artinya memusat ke satu titik). Jadi menurut teori konvergensi:
1)      Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan.
2)      Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik.
3)      Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh-kembang manusia. Meskipun demikian, terdapat variasi pendapat tentang factor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh-kembang itu. Dari sisi lain, variasi pendapat itu juga melahirkan berbagai pendapat/gagasan tentang belajar mengajar, seperti peran guru sebagai fasilitator ataukah informator, teknik penilaian pencapaian siswa dengan tes objektif atau tes esai, perumusan tujuan pengajaran yang sangat behavioral, penekanan pada peran teknologi pengajaran (The Teaching Machine, belajar berprogram, dan lain-lain) dan sebagainya.
Dengan demikian, aliran konvergensi menganggap bawa pendidikan sangat bergantung pada faktor pembawaan atau bakat dengan lingkungan.

4. Dasar dan Tuuan Pendidikan Islam
1). Dasar Pendidikakan Islam
Yang dimaksud dengan dasar pendidikan adalah pandangan hidup yang mendasari seluruh aktifitas pendidikan. Karena dasar menyangkut masalah ideal dan fundamental, maka diperlukan landasan dan pandangan hidup yang kokoh dan kmprehensif, serta tidak berubah. Hal ini karenatelah diyakini kebenarannya yang telah teruji oleh sejarah. Kalau nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang dijadikakn dasar pendidikanitu bersifat relatif da temporal, maka pendidikan akan mudah terombanh ambing oleh kepentingan dan tuntutan sesaat yang bersifat teknis dan pragmatis.
Sebagai aktifitas yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim, maka pendidikan Islam memerlukan asas atau dasar  yang dijadikan landasan kerja. Dengan daar ini akan memberi arah bagi pelaksanaan pendidikan  yang telah diprogramkan. Dalam konteks ini,dasar yang menjadi acuan pendidikan Islam hhendaknya meruoakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat mengantarkan peserta didik kearah pencapaian pendidikan. Oleh karena itu, dasar yang terpenting dari pendidikan Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (hadis).


5. Pengertian alat pendidikan Islam
1. Sutari Imam Bernadib
Suatu tindakan, perbuatan, atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu pendidikan.
      2. Ahmad D. Marimba
Alat pendidikan sebagai segala sesuatu yang dipergunakan dalam usaha mencapai tujuan pendidikan.
      3. M. Ngalim Purwanto
Sebagai usaha-usaha atau perbuatan-perbuatan dari si pendidik yang ditujukan untuk melaksanakan tugas mendidik.
Sebagai usaha, pendidikan juga merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, bahkan suatu tujuan, dilihat dari hirarkinya bisa juga menjadi alat (bernilai instrumental).
6. Lapangan penelitian pendidikan islam
           Lapangan penelitian prndidikan islam adalah tempat di mana berlangsungnya suatu pendidikan baik formal, nonformal, dan informal. Pendidikan formal meliputi pendidikan dalam sekolah baik dalam lembaga pendidikan islam maupun pendidikan umum, pendidikan nonformal meliputi pendidikan yang diperoleh dalam pergaualan sehari-hari dalam masyarakat baik dan buruknya, dan pendidikan informal meliputi pendidikan yang diperoleh dalam lingkungan keluarga. Di mana ketiga hal tersebut saling berhungan.